Masyarakat awam bertanya-tanya, mengapa 'konflik’ Israel-Palestina tak kunjung usai? Mengapa PBB berdiam dan lamban melihat pembataian brutal Israel? Padahal jelas-jelas aksi Israel itu termasuk penjajahan dan bukan sebuah 'konflik'.
Sudah dua pekan, aksi Israel itu berjalan dan memakan korban ribuan rakyat tak berdosa. Lagi-lagi jawaban klasik dari Dewan Keamanan PBB adalah "Dewan Keamanan akan segera rapat dan menyurati Israel". Sebuah fenomena klasik dan berulang.
Namun sebagian besar media massa dunia sama-sama menggunakan istilah 'konflik’ dan bukan memakai bahasa penjajahan. Dengan istilah ini, di sisi lain media memihak Palestina, namun di lain sisi isu konflik yang dilansir media sangat merugikan negara itu.
Terlebih sejumlah pernyatan Menlu Israel Tzipi Livni yang menyebutkan serangan Israel ditujukan kepada Hamas semata bukan kepada Palestina. Isu ini yang harus diluruskan dengan melihat akar permasalahannya, apakah 'konflik' atau penjajahan.
Bagi masyarakat yang hobi membaca buku literatur sejarah, migrasi Yahudi terjadi secara besar-besaran ke Palestina yang kemudian mendirikan negara Israel. Melalui perang setengah abad lebih, Ben Gurion, pimpinan zionis saat itu memproklamirkan negara Yahudi di Palestina pada 1948.
Kondisi bangsa Yahudi yang tinggal di daratan Eropa pada 70 Masehi sudah mendapat penindasan dikenal dengan Great Diaspora. Di spanyol pada 1492 ketika Ferdinand dan Isabella berkuasa, orang-orang Yahudi ditindas dan diusir bahkan dibantai secara massal.
Di Rusia, pada 1881 ketika Alexander II dinobatkan menjadi raja, menerapkan peraturan yang membatasi harta kepemilikan orang Yahudi. Namun berbagai peraturan itu selalu dilanggar. Puncaknya, pada 1891 puluhan ribu warga Yahudi diusir dari Rusia hingga terjadi pembantaian di Kishinev pada 1905.
Di Jerman, pada masa Hitler (1889-1945) orang-orang Yahudi dibantai dan diperlakukan tidak manusiawi. Perlakuan kejam masyarakat Eropa terhadap Yahudi ini bukan tanpa alasan.
Banyak faktor yang melatarbelakangi aksi pengusiran itu. Salah satunya adalah warga Yahudi yang selalu membuat kesal dan keonaran, serta seringkali mengacaukan sistem ekonomi setelah sebelumnya menguasai perputaran keuangan di kawasan Eropa.
Di Indonesia, hal itu juga pernah terjadi. Pasca jatuhnya Orde Baru, bisa dilihat betapa lihainya George Soros menghancurkan perekonomian tak hanya di Indonesia tapi juga seluruh wilayah Asia.
Warga Yahudi seringkali tidak menghormati adat istiadat dan kehidupan beragama orang-orang Eropa yang mayoritas memeluk Nasrani. Seperti dilakukan sejumlah tokoh Yahudi pada abad 17 seperti JJ Rousseau, Voltaire, Hume, Lessing dan Kant yang menginginkan revolusi pemikiran warga Eropa dengan mengkampanyekan kebebasan berpikir dalam arti yang sangat luas tanpa ada pembatasan.
Misalnya setiap orang bebas memilih keyakinan sendiri, bebas menjalankan pilihan politik dan kehidupan sosialnya masing-masing. Jejak pemikiran itu masih dianut masyarakat di negara barat hingga kini.
Revolusi itu mencetuskan pembaruan yang semu dengan menjunjung tinggi akal dan menolak semua dogma-dogma maupun otoritas agama yang tidak dapat diterima akal. Tak heran pada 1844 –1910 di Austria, tokoh kelompok Kristen Sosialis Karl Lueger membentuk gerakan anti-Yahudi .
Sejarah suram komunitas Yahudi di daratan Eropa ditandai dengan tragedi pengusiran dan pembantaian (holocaust). Sehingga tokoh-tokoh Yahudi kemudian bangkit dan bersatu mencari tempat baru yang kemudian disebut Home for Jewish.
Para tokoh Yahudi mencoba membangkitkan nasionalisme bangsanya. Salah satunya Moses Hess di 1812-1875 yang berpendapat hanya nasionalisme Yahudi yang dapat menyelamatkan mereka dari penindasan dan penyiksaan.
Kemudian para intelektual Yahudi mendirikan gerakan zionisme internasional. Gerakan inilah yang mengantar orang-orang Yahudi bermigrasi secara ilegal ke tanah Palestina dengan cara menjajah dan membentuk apa yang disebut Negara Israel.
Gerakan zionis ini berdiri di Viena pada 1895 oleh Theodore Herzl yang kemudian menjadi pemimpin pertama sekaligus dianggap sebagai Bapak Yahudi Dunia. Zionisme atau zionist movement berkembang ke seluruh daratan Eropa mulai dari timur ke barat hingga Amerika.
Target yang dituju sangat jelas yaitu bagaimana caranya merampas tanah Arab, persisnya di Palestina, lalu menjadikannya sebagai negara Israel bagi orang-orang Yahudi. Ide Herzl mendirikan negara Israel di Palestina ditentang keras oleh rabbi Yahudi-Amerika dan ilmuwan Yahudi. Termasuk salah satunya yang menolak ide tersebut adalah Einstein.
Alasannya, pendirian negara Yahudi di Palestina sarat dengan penjajahan. Di sisi lain juga membangkitkan kecurigaan terhadap orang-orang Yahudi di seluruh dunia yang bisa dituduh memiliki kesetiaan ganda dan kewarganegaraan rangkap. [Bersambung/E1]
--------Sudah dua pekan, aksi Israel itu berjalan dan memakan korban ribuan rakyat tak berdosa. Lagi-lagi jawaban klasik dari Dewan Keamanan PBB adalah "Dewan Keamanan akan segera rapat dan menyurati Israel". Sebuah fenomena klasik dan berulang.
Namun sebagian besar media massa dunia sama-sama menggunakan istilah 'konflik’ dan bukan memakai bahasa penjajahan. Dengan istilah ini, di sisi lain media memihak Palestina, namun di lain sisi isu konflik yang dilansir media sangat merugikan negara itu.
Terlebih sejumlah pernyatan Menlu Israel Tzipi Livni yang menyebutkan serangan Israel ditujukan kepada Hamas semata bukan kepada Palestina. Isu ini yang harus diluruskan dengan melihat akar permasalahannya, apakah 'konflik' atau penjajahan.
Bagi masyarakat yang hobi membaca buku literatur sejarah, migrasi Yahudi terjadi secara besar-besaran ke Palestina yang kemudian mendirikan negara Israel. Melalui perang setengah abad lebih, Ben Gurion, pimpinan zionis saat itu memproklamirkan negara Yahudi di Palestina pada 1948.
Kondisi bangsa Yahudi yang tinggal di daratan Eropa pada 70 Masehi sudah mendapat penindasan dikenal dengan Great Diaspora. Di spanyol pada 1492 ketika Ferdinand dan Isabella berkuasa, orang-orang Yahudi ditindas dan diusir bahkan dibantai secara massal.
Di Rusia, pada 1881 ketika Alexander II dinobatkan menjadi raja, menerapkan peraturan yang membatasi harta kepemilikan orang Yahudi. Namun berbagai peraturan itu selalu dilanggar. Puncaknya, pada 1891 puluhan ribu warga Yahudi diusir dari Rusia hingga terjadi pembantaian di Kishinev pada 1905.
Di Jerman, pada masa Hitler (1889-1945) orang-orang Yahudi dibantai dan diperlakukan tidak manusiawi. Perlakuan kejam masyarakat Eropa terhadap Yahudi ini bukan tanpa alasan.
Banyak faktor yang melatarbelakangi aksi pengusiran itu. Salah satunya adalah warga Yahudi yang selalu membuat kesal dan keonaran, serta seringkali mengacaukan sistem ekonomi setelah sebelumnya menguasai perputaran keuangan di kawasan Eropa.
Di Indonesia, hal itu juga pernah terjadi. Pasca jatuhnya Orde Baru, bisa dilihat betapa lihainya George Soros menghancurkan perekonomian tak hanya di Indonesia tapi juga seluruh wilayah Asia.
Warga Yahudi seringkali tidak menghormati adat istiadat dan kehidupan beragama orang-orang Eropa yang mayoritas memeluk Nasrani. Seperti dilakukan sejumlah tokoh Yahudi pada abad 17 seperti JJ Rousseau, Voltaire, Hume, Lessing dan Kant yang menginginkan revolusi pemikiran warga Eropa dengan mengkampanyekan kebebasan berpikir dalam arti yang sangat luas tanpa ada pembatasan.
Misalnya setiap orang bebas memilih keyakinan sendiri, bebas menjalankan pilihan politik dan kehidupan sosialnya masing-masing. Jejak pemikiran itu masih dianut masyarakat di negara barat hingga kini.
Revolusi itu mencetuskan pembaruan yang semu dengan menjunjung tinggi akal dan menolak semua dogma-dogma maupun otoritas agama yang tidak dapat diterima akal. Tak heran pada 1844 –1910 di Austria, tokoh kelompok Kristen Sosialis Karl Lueger membentuk gerakan anti-Yahudi .
Sejarah suram komunitas Yahudi di daratan Eropa ditandai dengan tragedi pengusiran dan pembantaian (holocaust). Sehingga tokoh-tokoh Yahudi kemudian bangkit dan bersatu mencari tempat baru yang kemudian disebut Home for Jewish.
Para tokoh Yahudi mencoba membangkitkan nasionalisme bangsanya. Salah satunya Moses Hess di 1812-1875 yang berpendapat hanya nasionalisme Yahudi yang dapat menyelamatkan mereka dari penindasan dan penyiksaan.
Kemudian para intelektual Yahudi mendirikan gerakan zionisme internasional. Gerakan inilah yang mengantar orang-orang Yahudi bermigrasi secara ilegal ke tanah Palestina dengan cara menjajah dan membentuk apa yang disebut Negara Israel.
Gerakan zionis ini berdiri di Viena pada 1895 oleh Theodore Herzl yang kemudian menjadi pemimpin pertama sekaligus dianggap sebagai Bapak Yahudi Dunia. Zionisme atau zionist movement berkembang ke seluruh daratan Eropa mulai dari timur ke barat hingga Amerika.
Target yang dituju sangat jelas yaitu bagaimana caranya merampas tanah Arab, persisnya di Palestina, lalu menjadikannya sebagai negara Israel bagi orang-orang Yahudi. Ide Herzl mendirikan negara Israel di Palestina ditentang keras oleh rabbi Yahudi-Amerika dan ilmuwan Yahudi. Termasuk salah satunya yang menolak ide tersebut adalah Einstein.
Alasannya, pendirian negara Yahudi di Palestina sarat dengan penjajahan. Di sisi lain juga membangkitkan kecurigaan terhadap orang-orang Yahudi di seluruh dunia yang bisa dituduh memiliki kesetiaan ganda dan kewarganegaraan rangkap. [Bersambung/E1]
*sumber: inilah.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar